Suku Bajo di Torosiaje

Suku Bajo
Torosiaje adalah nama desa yang ditempati oleh suku Bajo, desa tersebut berada di kecamatan Popayato. Rumah mereka berdiri diatas laut perbatasan Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Antropolog Francis, Francois-Robert Zacot dalam bukunya Peuple nomade de la mer: Les Badjos d’Indonesie (Orang Bajo, Suku Pengembara Laut) menceritakan penelitiannya di Torosiaje. Orang Bajo mulai mendirikan rumah di atas laut Teluk Tomini, tepatnya Kecamatan Popayato, sejak tahun 1901. Mereka pada awalnya adalah sekumpulan pengembara laut yang tinggal di atas perahu atau soppe.

Dari Kolong Rumah Panggung

Tulisan ini dimuat di LenteraTimur.com edisi 10 april 2012

 

Gambar
Anak-anak sedang bermain bola di halaman rumah panggung Gorontalo. Foto: Ivol

Saat senja memancarkan lembayung, rumah panggung itu terlihat kokoh. Sinar merah jingga seperti menghangatkan tiang-tiang papan rumah yang tampak tua dan terlihat keropos.

Dari bawah kolong rumah panggung, seorang anak duduk menghentak-hentakan kakinya. Tatapannya mengarah ke teman-temannya yang sedang bermain sepak bola sembari memberi semangat. Mereka berkejar-kejaran hingga ke bawah kolong rumah.

Lapangan yang menjadi tempat mereka bermain bola adalah halaman rumah panggung milik Nur Al Idrus dan Tum Al Idrus. Keduanya adalah perempuan bersaudara yang sudah uzur, renta, dan tak bersuami. Mereka tak tahu lagi, berapa usia mereka sekarang.

Di rumah panggung itu, mereka tak hanya hidup berdua. Ada keponakan laki-laki yang bekerja sebagai sopir pribadi dan tiga cucu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Rumah panggung itu terletak di pinggiran Kota Gorontalo, tepatnya di Kelurahan Bugis, Kecamatan Dumbo Raya.

Seperti biasa, di Sabtu sore awal April itu, Tum Al Idrus sibuk dengan aktivitas dapurnya. Ia menyalakan api di atas tungku dan meniupnya. Asap pun mengepul, diikuti batuk yang suaranya terdengar hingga ke ruang tengah rumah itu. Meski demikian, tak berapa lama jamuan malam yang akan dipersiapkan segera tersaji.

Cat bagian dapur dari rumah panggung itu mulai luntur. Warnanya menjadi kehitam-hitaman, yang berasal dari api tungku yang setiap hari ditiup oleh sang nenek. Di bagian belakang, rumah itu memiliki tangga yang mulai rapuh. Dua tangga lainnya terdapat di bagian depan rumah, yang letaknya di samping kiri dan kanan.

Seperti rumah panggung pada umumnya, rumah panggung di Gorontalo juga berbentuk persegi empat yang memanjang ke belakang. Atapnya seng. Tiang-tiang penyangganya memiliki tinggi sekitar satu meter. Sementara dua tangga yang berada di depan bentuknya menjulur dari samping.

Nur dan Tum Al Idrus sangat berhati-hati jika menaiki tangga rumah panggung mereka. Maklum, usia keduanya sudah uzur. Namun, tak ada satu pun ketakutan yang terlihat dari raut mereka.

”Rumah ini berdiri sejak tahun 1927,” kata Tum Al Idrus. ”Rumah panggung sangat kuat dan tahan gempa.”

Arang hitam menempel di wajah nenek Tum Al Idrus. Ingatannya menerawang ke masa silam. Menurutnya, rumah panggung tersebut mampu menyelamatkan mereka dari ancaman gempa. Seperti gempa dahsyat yang pernah terjadi di Gorontalo pada 2008 lalu. Dengan kekuatan gempa 7,7 skala richter kala itu, rumah mereka sangat aman.

”Selain aman dari gempa, rumah panggung juga aman dari bencana banjir,” tambah Nur Al Idrus.

Gambar
Salah satu rumah panggung di Gorontalo. Foto: Ivol

Di Kota Gorontalo, jika hujan mengguyur selama satu jam atau lebih, maka banjir akan datang, dan segeralah bergegas mengemas perkakas rumah ke tempat yang aman. Dan ini terjadi setiap tahun. Namun, persoalan banjir tidak didera rumah panggung.

”Kalau rumah warga lain tergenang banjir, justru rumah panggung kami yang sudah tua ini sangat aman,” ujar Nur Al Idrus.

Di Gorontalo masih banyak ditemui rumah panggung yang tersebar dan dipertahankan sebagai identitasnya. Seperti di di kawasan Kecamatan Kota Timur, misalnya. Di halaman belakangnya juga umumnya ditanami dengan bunga dan pohon hingga tampak indah di mata.

Arifin Rasimpala, salah seorang pemilik rumah panggung di Kecamatan Kota Timur menceritakan, rumah khas di Gorontalo adalah rumah panggung. Namun, banyak rumah panggung milik warga yang sudah direnovasi. Yang tadinya tiang-tiang penyangganya terbuat dari kayu, kini banyak yang menggantikannya dengan beton. Alasannya agar pondasinya lebih kuat.

“Seperti rumah panggung milik kami ini. Sudah ada sejak tahun 1914. Namun kami merenovasi kembali dengan tiang penyangga dari beton,” ungkap Arifin.

Di beberapa tempat, seperti di Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, juga dapat dijumpai rumah panggung berderet yang dipertahankan oleh pemiliknya. Dinding bagian berandanya berbahan papan, sementara ruang dapurnya terbuat dari bambu yang dibelah dan dianyam. Tiang penyangga masih terlihat kuat. Di kala siang, kolong rumah menjadi tempat bermain kelereng bagi anak-anak.

“Dan juga menjadi tempat parkir motor,” kata Sari Abas, salah seorang pemilik rumah panggung.

Dahulu kala, orang-orang Gorontalo membuat rumah panggung agar hunian mereka terhindar dari binatang liar. Selain itu, kolong rumah panggung juga digunakan untuk memelihara ternak. Namun, konsep rumah panggung sebenarnya didasarkan pada wilayah geografi Gorontalo yang senantiasa digenangi air.

“Dulu Gorontalo senatiasa tergenang oleh air. Sehingga itu nenek moyang Gorontalo mendirikan rumah panggung,” kata Alim Niode, sosiolog dari Universitas Negeri Gorontalo.

Ia menyebutkan, kata Gorontalo berasal dari “Hunto” yang artinya suatu tempat yang selalu digenangi air. Ini merupakan salah satu asal usul nama “Hulonthalo”. Namun, orang Belanda yang ketika itu menguasai wilayah ini kesulitan dalam mengucapkannya. Mereka lebih mudah dengan pengucapan “Horontalo”, dan kemudian berubah menjadi Gorontalo.

Basri Amin, peneliti dari Pusat Studi Sosial Universitas Negeri Gorontalo, sebagaimana dikutip dari koran Gorontalo Post, edisi 26 Mei 2009 (Lingkungan Gorontalo, Menoleh ke Belakang Mentapa ke Depan), menyebutkan bahwa pada 1880-an banjir sudah terjadi sekali setiap tahun di Gorontalo. Dan sejak saat itu rumah-rumah di Gorontalo mulai menggunakan fondasi yang tinggi.

Di Gorontalo sendiri rumah adatnya sering disebut Dulohupa. Rumah ini berbentuk panggung sebagaimana rumah panggung yang tersebar di wilayah-wilayah Sulawesi lainnya. Dulohupa merupakan balai musyawarah dari kerabat kerajaan.

Selain itu, ada juga sebutan lain untuk rumah adat Gorontalo, yakni Bantayo Poboide. “Bantayo” artinya gedung atau bangunan, sedangkan “Poboide” berarti tempat bermusyawarah.

“Masyarakat etnis Gorontalo terdiri dari keluarga Batih (nuclear family), dalam bahasa Gorontalo disebut Ngalaa. Tiap-tiap ngalaa menghuni sebuah tempat yang disebut Laihe, yakni rumah panggung berbentuk bujur sangkar atau persegi empat, sebuah rumah besar yang disekat dalam beberapa petak. Selain itu memiliki ruangan untuk bermusyawarah yang disebut dulopehu,” Alim Niode menjelaskan.

Gambar
Sejumlah rumah panggung yang tersebar di seluruh Sumatera. Dalam caranya sendiri-sendiri, beberapa sudah berubah bentuk. Foto: Redaksi LenteraTimur.com.

Barangkali ada yang menyangka bahwa bentuk rumah panggung hanya ditemukan jika kita menengok ke Sumatera atau Kalimantan. Akan tetapi, bentuk rumah panggung yang khas itu juga banyak tersebar di daratan Sulawesi. Dan Gorontalo, tambah Alim, diakui memang mendapat pengaruh dari bangsa lain. Ada persentuhan antara Gorontalo dan Melayu.

Namun, dari bentuk arsitektur rumah panggungnya, Gorontalo memiliki spesifik tersendiri: dua tangga di depan. Dan di atas pintu tidak terdapat ukiran hewan bergerak. Yang ada hanya ukiran daun yang bermakna tidak lagi menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Gaya arsitekturnya menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo bernuansa Islami.

Barangkali, rumah panggung di Gorontalo memang memiliki pertalian dengan rumah panggung lain yang ada di seluruh wilayah Sumatera, Kalimantan, Thailand, Malaysia, Pilipina, dan wilayah lain yang ada di Kepulauan Melayu ini.